MAKNA
NATAL & PERUBAHAN HIDUP ORANG2 PERCAYA
RENUNGAN PAGI: Filipi
2:5-8
Merayakan Hari Natal
sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang Kristen. Oleh karena itu seringkali
makna Natal yang sesungguhnya tidak lagi begitu dipedulikan. Maka wajarlah bila
perayaan Hari Natal itu tidak lagi membawa perubahan apa-apa bagi mereka,
kecuali keletihan dan anggaran keuangan yang semakin menipis.
Hari Natal memang sudah
biasa dirayakan, tetapi sebenarnya Hari Natal tetap merupakan hari yang luar
biasa. Hari Natal mengingatkan orang-orang percaya bahwa Allah pernah datang ke
dalam sejarah umat manusia. Hari Natal bukan sekedar merayakan hari lahirnya
seorang bayi yang bernama Yesus, tetapi mengingatkan umat manusia bahwa Allah
telah berinkarnasi menjadi manusia untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang
berdosa.
Pada Hari Natal
hendaknya setiap umat Tuhan tidak hanya berpesta ria, tetapi perlu pula
menyisihkan waktu untuk merenungkan secara mendalam akan makna yang terkandung
dalam inkarnasi Tuhan Yesus.
Allah berfirman melalui
Rasul Paulus, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu
salib” (Fil. 2 : 5 – 8). Firman Tuhan itu berseru kepada setiap orang percaya
untuk meneladani Tuhan Yesus Kristus yang telah berinkarnasi pada Hari Natal.
1. TUHAN YESUS TIDAK
MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI
Tuhan Yesus yang di
dalam hati dan pikiran-Nya tidak hanya mementingkan diri sendiri, perlu
diteladani.
Manusia berdosa yang
egois dan egosentris cenderung hanya memikirkan diri sendiri tanpa mempedulikan
orang lain. Kalaupun ia memperhatikan orang lain, seringkali itu dikarenakan
dua hal: orang lain itu dapat menguntungkan dirinya atau sebaliknya telah
merugikan dirinya. Jadi dengan kata lain, ia memperhatikan orang lain hanya
semata-mata demi dirinya sendiri.
Sebagai orang-orang yang
telah lebih dahulu dikasihi, diselamatkan dan diperbaharui oleh Tuhan Yesus,
apakah Anda masih hidup dalam keadaan yang egois dan egosentris? Seharusnya
tidaklah demikian! Teladan Tuhan Yesus dalam memikirkan orang lain dan bukan
hanya memikirkan diri sendiri harus dicontoh oleh setiap orang yang percaya
kepada-Nya.
2.
TUHAN YESUS DATANG UNTUK MELAYANI
Tuhan Yesus datang ke
dalam dunia untuk melayani. Hal ini harus diteladani pula! Sebab memikirkan
orang lain secara abstrak saja tidaklah cukup, tetapi harus ada tindakan nyata
untuk mewujudkannya. Kalaupun Tuhan Yesus, yang adalah Raja di atas segala raja
dan Tuan di atas segala tuan itu, mau datang ke dalam dunia yang hina dan penuh
dosa ini, sesungguhnya hal itu sudah merupakan penghargaan yang tiada tara bagi
manusia nista. Tetapi yang dilakukannya jauh lebih besar… Ia rela datang untuk
melayani (Mat. 20:28).
Apakah manusia bila
dibanding dengan Dia yang Mahakudus dan mahamulia? Bila Tuhan Yesus datang ke
dalam dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, tidakkah kita
sebagai murid-murid-Nya harus melayani dengan lebih sungguh lagi?
Banyak orang yang
membutuhkan pelayanan kita, baik saudara-saudara seiman maupun orang-orang yang
belum mengenal Tuhan Yesus. Marilah kita melayani dengan segenap hati, jiwa,
kekuatan dan akal budi kita serta sesuai dengan kemampuan dan talenta yang ada
pada kita.
3. TUHAN YESUS RELA MENGORBANKAN
DIRI
Tuhan Yesus rela
berkorban demi umat manusia. Dengan kerelaan-Nya untuk berinkarnasi menjadi
manusia, sebenarnya Tuhan Yesus telah memberikan pengorbanan yang besar. Ia
tidak terbatas rela menjadi terbatas; Ia yang Mahakaya rela menjadi miskin; Ia
yang Mahakuasa dan Mahamulia rela menjadi pelayan. Bukanlah semuanya itu telah
menunjukkan suatu pengorbanan yang sangat besar?
Tetapi pengorbanan yang
Tuhan Yesus berikan jauh melebihi semuanya itu! Ia rela mati di atas kayu salib
demi penebusan dosa umat manusia yang seharusnya binasa. Segala hukuman dan
derita yang seharusnya diterima oleh umat manusia telah dipikul-Nya sendiri di
atas kayu salib, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan
binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Tuhan Yesus datang ke dunia pada
hari Natal adalah untuk menebus dosa manusia melalui pengorbanan-Nya di atas
kayu salib.
Pelayanan yang berarti
senantiasa menuntut adanya pengorbanan. Pengorbanan Kristus yang tiada taranya
itu telah membuka lembaran baru bagi manusia. Ia memberi kehidupan yang penuh
pengharapan bagi manusia yang sudah tak berpengharapan.
Bagaimana respon Saudara
dan saya, orang-orang yang telah diselamatkan-Nya? Apakah ada kerelaan di hati
kita untuk berkorban bagi Tuhan, pelayanan dan sesama manusia? Tuhan
Yesus telah memberikan teladan yang terindah dalam hal kerelaan berkorban.
Tidakkah kita mau meneladani-Nya?
Bagaimana kita
menghadapi Hari Natal yang merupakan peringatan akan inkarnasi Tuhan Yesus?
Mungkin saja Hari Natal ini akan berlalu seperti tahun-tahun kemarin tanpa
memberikan dampak dan perubahan yang berarti dalam hidup kita. Tetapi bukan
tidak mungkin Hari Natal kali ini mendatangkan berkat Tuhan dan dampak positif dalam
hidup kita. Semua itu terpulang kepada bagaimana kita melalui Hari Natal dan
bagaimana pula respon kita terhadap Yesus Kristus yang telah berinkarnasi di
Hari Natal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar