Jumat, 28 Februari 2020


KOTBAH HARI MINGGU KE VI PRAPASKAH
MINGGU, 1 MARET 2020 di GPIB KK MEDAN.

THEMA SINODE: PENCOBAAN TUBUH DAN ROH SEBAGAI PENDIDIKAN DALAM RANGKA PERSIAPAN PELAKSANAAN TUGAS.

Bacaan Alkitab: Lukas 4 : 1 - 8

Selama hidup di dunia ini kita akan terus diperhadapkan pada ujian dan pencobaan karena dunia di mana kita tinggal ini telah dikuasai oleh dosa, dan sudah sangat jelas bahwa sifat-sifat dosa itu sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan.  Itulah sebabnya setiap orang yang percaya harus terus berjuang melawan pencobaan dan godaan Iblis.  Adalah tidak mudah menang melawan pencobaan-pencobaan yang menyerang kita, karena Matius 26:41 mengatakan:  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi
daginglemah”.

Kenapa Yesus dicobai oleh iblis..??
       Karena iblis mengetahui, saat Yesus dibawa Roh Kudus ke padang gurun selama 40 hari 40 malam dan tdk makan dan tdk minum, maka saat itulah siasat iblis utk mencobai Yesus.
Sebagi manusia, kitapun tahu bila seseorang tidak makan dan tidak minum selama 40 hari 40 malam, tentu secara kedagingan sudah pasti lapar, haus, akhirnya menjadi lemas, lesu. Dalam situasi inilah si iblis mencobai Yesus.
Namun Yesus tetap menang, karena Yesus tahu bahwa mengalahkan pencobaan adalah dengan Kuasa Firman Tuhan.
Luk.4:13 mengatakan:
"Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang-baik."


     Mengapa kita harus diperhadapkan pada pencobaan-pencobaan?  Ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan kehidupan orang percaya itu bebas dari segala pencobaan, tapi yang pasti Dia berjanji untuk selalu memberikan jalan keluar, sedangkan  
"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.  Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.  Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."  (1 Korintus 10:13).  Bagaimana supaya kita bisa menang melawan pencobaan dari Iblis?  Cara terbaik adalah harus melekat pada Tuhan dan senantiasa tinggal di dalam firmanNya.  Tuhan Yesus telah meninggalkan teladan yang luar biasa bagaimana melawan pencobaan.  Ketika sedang dicobai Iblis, tak henti-hentinya Yesus menggunakan firman Allah sebagai pedang Roh untuk mematahkan setiap tipu muslihat Iblis.  Sebagaimana tertulis, selama empat puluh hari Yesus berpuasa di padang gurun, di mana kesempatan ini tidak disia-siakan Iblis untuk mencobai Dia.  Tiga kali Iblis berusaha untuk melemahkan Yesus dengan harapan Dia gagal menggenapi rencana Bapa dalam hidupNya, agar Dia berbalik dari jalan yang sudah ditentukan oleh BapaNya.  Tiga kali pula Yesus membalas serangan Iblis itu dengan memperkatakan firman Tuhan,  "Ada tertulis…pada ayat 4 & 8 serta ada Firman… pada ayat 12 "  Dan akhirnya Yesus menang.!!!
     Firman itu hidup dan berkuasa karena itu adalah perkataan Allah sendiri!  Kuasa itu semakin nyata bila kita memperkatakan firman itu dengan iman.  Namun, mengapa kita sebagai orang Kristen  malas membaca Alkitab?
Sebesar apa pun pencobaan yang menyerang kita, sepatah kata dari firman Tuhan yang kita ucapkan dengan iman akan sanggup mengalahkannya.


Kisah pencobaan Tuhan kita disajikan di dalam Injil Lukas, Markus dan Injil Matius. Yesus, seperti halnya Adam (Kej. 3:6), diuji dalam tiga bidang yaitu kebutuhan jasmaniah, ambisi duniawi dan pencapaian rohani, untuk membuktikan kemampuan-Nya melaksanakan tugas-Nya. Sementara manusia pertama kalah, Yesus menang. Mengapa? Mari kita renungkan.
(1) Untuk menang atas pencobaan, kita harus memahami dan melaksanakan rencana Allah atas hidup kita.
Waktu Adam dan Hawa dicobai, mereka berada dalam kelimpahan dan kenyamanan hidup. Semua yang mereka butuhkan tersedia. Bahkan Allah senantiasa hadir menyertai mereka. Tetapi dalam keadaan serba tersedia, mereka tidak mampu menolak godaan Iblis, sehingga mereka berdosa. Bandingkan keadaan tersebut dengan Tuhan Yesus pada waktu Ia dicobai. Selama empat puluh hari lamanya Yesus berada di padang gurun yang kering dan panas. Tidak makan, sehingga Ia pasti sangat lapar. Dalam keadaan demikian Iblis datang mencobai Yesus.
Pencobaan pertama Iblis berkenaan dengan kuasa (ay 2-4). Ia menantang Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Mudah bagi Yesus untuk melakukannya, tetapi Yesus tahu bahwa kehadiran-Nya di dunia ini adalah dalam rangka ketaatan kepada Bapa.
Pencobaan kedua Iblis mengenai perbudakan materi (ay 5-8). Iblis menawarkan suatu keadaan yang “berkecukupan” kepada Yesus asalkan Yesus mau menyembah dia. Yesus menolak kerajaan dunia yang berlimpah-limpah harta kemewahan dan kekuasaan karena dunia ini milik Allah, bukan milik Iblis. Lagipula Yesus mengetahui bahwa jalan Allah adalah melalui ketaatan kepada kehendak Allah.
Pencobaan ketiga mengenai “mencobai” Tuhan (ay 4-12). Iblis memutarbalikkan firman Tuhan yang dikutipnya dari Mazmur 91:11,12 yang menyatakan bahwa Allah menjanjikan pemeliharaan atas hamba-Nya. Mencobai Tuhan artinya menuntut bukti dari Tuhan untuk dapat percaya. Hal itu sama saja dengan tidak mempercayai Tuhan.
Oleh karena Yesus tetap pada pendirian-Nya yaitu setia pada panggilan-Nya, maka iblis mengundurkan diri sesaat. Pencobaan-pencobaan seperti ini akan kita hadapi. Untuk menang terhadapnya kita harus memahami rencana Tuhan atas hidup kita, dan memiliki kemantapan akan tujuan hidup kita.
(2) Untuk menang atas pencobaan, Kita harus taat dan setia seperti Yesus yang taat.
Konsep dan pengharapan kebanyakan orang dan agama tentang Mesias (pahlawan atau tokoh yang Allah pakai untuk menolong manusia) ternyata berbeda dari kenyataan hidup Yesus, Sang Mesias sejati. Kita cenderung berpikir bahwa Mesias sedemikian dicintai Allah seharusnya tdk mengalami masalah apapun.
Yesus memperlihatkan gambaran Mesias yang sesungguhnya. Yesus adalah Mesias yang mengerti betul misi-Nya yakni menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Ia harus mengalami pencobaan dan menyatakan ketaatan-Nya kepada Allah. Ia menolak godaan Iblis untuk menggunakan kuasa keilahian-Nya mengubah batu menjadi roti (ay 3). Ia bersedia lapar jasmani demi menyelami kelaparan-kelaparan yang melanda manusia berdosa. Kesadaran akan misi-Nya membuat Dia sadar juga bahwa jalan untuk mencapai misi itu adalah dengan naik ke salib, bukan naik ke takhta dunia (ay 6-7). Itulah juga yang menyebabkan Dia menolak bujukan Iblis untuk menyembahnya demi beroleh takhta dunia. Yesus juga menyadari bahwa kemesiasan-Nya bersumber dari Allah Bapa. Oleh karena itu, Dia percaya betul pada rencana Allah Bapa yang tidak mungkin salah dan menolak tipuan Iblis untuk mencobai Allah Bapa (ay 12). Kesejatian kemesiasan Yesus nampak pula dari keserasian-Nya sebagai penggenapan nubuat PL dengan bagian firman Tuhan lainnya. Firman Tuhan adalah Firman yang hidup dan firman yang tertulis serta menyatu dalam diri Sang Mesias.
Selama masa uji yang berat dan panjang itu Yesus memperlihatkan komitmen dan kesetiaan-Nya sebagai Mesias, yang diutus Allah. Ia setia berpegang pada kehendak Allah, maka kita dapat sepenuhnya mengandalkan Dia. Sebagai murid dan pengikut-Nya kita juga harus melalui berbagai godaan kejahatan. Ia yang menang dapat menolong kita menang bersama-Nya. Taat kepada Allah dan firman-Nya dengan bertumpu pada Sang Juruselamat dan teladan kita merupakan poinnya.
(3) Untuk menang melawan iblis yang mencobai, kita harus menggunakan Pedang Roh yaitu Firman Allah, seperti yang Yesus-lakukan.
Seorang teolog pernah menuliskan bahwa setiap detail hidup manusia harus diliat dari sudut pandang teologi. Maksudnya, segala yang terjadi dalam hidup kita, harus dilihat dari sudut pandang Allah, bukan berdasarkan pandangan manusia.
Renungan firman ini memperlihatkan kepada kita cara Yesus mengatasi pencobaan. Saat itu Yesus dituntun Roh Kudus ke padang gurun (ay 1). Setelah berpuasa selama 40 hari 40 malam, Yesus merasa lapar. Lapar merupakan salah satu titik lemah manusia. Dalam keadaan lapar orang bisa kalap dan gelap mata hingga dapat melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa laparnya. Iblis memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak Yesus. Kebutuhan Yesus saat itu akan makanan dipakai Iblis dengan mengusulkan cara pemenuhan kebutuhan yang tidak pada tempatnya, karena tidak sesuai firman Allah (ay 2-3). Dalam pencobaan kedua, Iblis menawarkan kuasa atas dunia kepada Yesus melalui satu cara mudah, yaitu menyembah Iblis (ay 6-7). Padahal rencana Bapa bagi Yesus adalah untuk menderita terlebih dahulu, baru kemudian masuk ke dalam kemuliaan-Nya (Luk. 24:26). Pada pencobaan ketiga, Iblis meminta Yesus mencobai Allah untuk melakukan sesuatu hal yang ajaib bagi diri-Nya (ay 9-11).
Dalam peristiwa itu, Yesus memperlihatkan diri-Nya sebagai manusia biasa yang dapat mengalami pencobaan. Namun Ia tidak mau dikalahkan pencobaan. Caranya? Ia menggunakan firman Tuhan. Firman Tuhan adalah senjata yang dapat kita pakai juga tatkala Iblis berusaha mencobai atau memperdaya kita. Bila kita tidak kenal firman Tuhan, kita bagaikan prajurit yang maju ke medan perang tanpa senjata. Kalau demikian, bagaimana kita dapat berjuang melawan musuh? Kita pasti kalah! Bahkan, jangankan melawan, kita mungkin malah "menikmati" setiap pencobaan yang dilancarkan Iblis karena kita tidak tahu bahwa hal itu salah. Maka pahami firman Tuhan dan ketahui apa kehendak Tuhan bagi kita anak-anak-Nya, hingga kita bisa bertahan dari serangan tipu muslihat Iblis yang selalu berupaya menjatuhkan kita.
(4) Jika kita mengikuti pimpinan Allah maka kita pasti menang dalam pencobaan.
Adam diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26). Namun menghadapi pencobaan dari Iblis, Adam gagal dan jatuh ke dalam dosa. Kejatuhan yang membuat semua manusia tercemar dosa. Itulah Adam, nama yang disebut terakhir dalam silsilah Yesus (Luk. 3:38). Lalu bagaimana bila Yesus sendiri yang menghadapi pencobaan dari Iblis?
Setelah berpuasa selama empat puluh hari, tak ada yang lebih menarik selain makanan. Tentu akan dimaklumi bila saat itu Ia mengubah batu menjadi roti untuk memuaskan rasa lapar-Nya. Namun kalau kita cermati, perkataan Iblis "Jika Engkau Anak Allah......" sesungguhnya merupakan godaan agar Yesus bertindak demi diri-Nya sendiri, dan lepas dari ketergantungan kepada Bapa. Jelas, ini merupakan bentuk tiadanya iman. Maka jawaban Yesus yang dikutip dari Ulangan 8:3, "... Manusia hidup bukan dari roti saja" mengajarkan bahwa manusia hidup karena kebaikan Allah yang memelihara dan memenuhi kebutuhan manusia. Maka hidup berarti bergantung penuh pada Allah meski situasi tidak menjanjikan apapun. Pencobaan kedua merupakan tawaran untuk menggapai kuasa. Namun tawaran itu tidak gratis karena Iblis menuntut imbalan agar Yesus menyembah dia. Padahal jelas, Iblis tak layak disembah dan tidak memiliki kuasa sedemikian besar untuk ditawarkan kepada Yesus (ay 6). Maka dengan mengutip Ulangan 6:13, Yesus menegaskan bahwa hanya Allah saja yang patut disembah. Pencobaan ketiga merupakan godaan untuk menguji perlindungan Allah karena itu berarti meragukan kesetiaan Allah. Tentu saja Yesus tidak mau memaksa Allah untuk melakukan mukjizat. Lalu Yesus mengutip Ulangan 6:16 untuk melawan perkataan Iblis (ay 12). Iblis pun gagal (ay 13).
Kunci kemenangan Yesus adalah mengikuti pimpinan Allah kemanapun Allah mengarahkan Dia. Ini pelajaran penting karena kita pun akan mengalami saat-saat kritis dalam perjalanan iman kita yang memungkinkan kita mempertanyakan kebaikan dan kesetiaan Allah. Maka berpeganglah pada firman Allah dan percaya penuh pada-Nya apapun situasi yang kita hadapi.
(5) Kemenangan kita melawan Iblis bukan cuma hayalan.
Kemanusiaan yang sesungguhnya dikehendaki Allah dalam diri Yesus adalah manusia yang mampu untuk tidak berdosa, mampu menolak godaan yang seringkali membuat manusia jatuh yaitu keangkuhan (ingat Hawa!), kekuasaan, dan kekayaan. Yesus sebagai manusia mampu melakukan itu. Memang itulah seharusnya manusia itu. Umat kristen tidak boleh mempunyai konsep bahwa orang yang jatuh dalam godaan adalah manusiawi. Itu justru bukan manusiawi. Manusiawi yang sesungguhnya adalah seperti yang didemontrasikan oleh Yesus.
Sebagai manusia, Yesus mampu menolak godaan dan cobaan karena Ia menggunakan firman Tuhan sebagai perisai dan pedang untuk menghancurkan segala serangan. Dari ucapan yang Yesus katakan "sebab ada tertulis ..." menyatakan bahwa tulisan-tulisan itu mempunyai sifat yang sakral (kudus), artinya mempunyai suatu otoritas yang berasal dari Allah. Kegagalan kita melakukan godaan adalah karena kita tidak menggunakan firman Tuhan sebagai perisai.
Saudaraku, Firman Allah yang tertulis mempunyai kuasa bagi kita dalam peperangan rohani. Kita umat kristen harus mampu hidup seperti Yesus yang berhasil menangkis segala godaan iblis, sehingga tidak berdosa. Ini bisa terjadi hanya jika kita bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Jemaat yang dikasihi Kristus Yesus,
Juruselamat kita menang atas Setan oleh kuasa Roh Kudus dan penggunaan Firman ilahi sebagai pedang-Nya dan mereka yang dipersenjatai dengan baik adalah mereka yang kemudian diperlengkapi. Perkataan dari mulut Kristus dikeluarkan dengan suatu kuasa yang menusuk kesadaran manusia, menembus roh jahat dan mengenyahkan penyakit. Hal yang sama dapat dinyatakan Allah melalui kita.
Satu unsur yang penting dari pencobaan yang dialami Yesus berkisar pada Mesias macam apakah Dia itu dan bagaimana Ia akan memakai urapan yang diterima-Nya dari Allah. Nyata bahwa: (1) Yesus dicobai untuk memakai urapan dan kedudukan-Nya untuk kepentingan diri sendiri (ay 3-4), untuk memperoleh kemuliaan dan kuasa atas bangsa-bangsa daripada menerima salib dan jalan kesengsaraan (ay 5-8), dan untuk menyesuaikan diri-Nya dengan harapan umat Israel yang populer untuk menjadi seorang Mesias yang "sensasional" (ay 9-11), dan
(2) Iblis masih terus mencobai para pemimpin Kristen untuk memakai urapan, kedudukan, dan kemampuan mereka bagi kepentingan diri sendiri, untuk menegakkan kemuliaan dan kerajaannya sendiri, dan untuk lebih menyenangkan manusia daripada menyenangkan Allah. Mereka yang berkompromi dengan Iblis demi kepentingan dirinya sendiri, dalam kenyataannya telah takluk dan bertuan kepada Iblis.
Yesus melawan pencobaan Iblis dengan menyatakan bahwa lebih daripada segala yang lain Ia akan hidup dari Firman Allah (Ul 8:3). Berarti:
(A) Yesus sedang mengatakan bahwa segala hal yang penting dalam kehidupan bergantung kepada Allah dan kehendak-Nya (Yoh 4:34). Memburu sukses, kesenangan, dan perkara-perkara bendawi di luar jalan dan tujuan Allah akan menimbulkan kekecewaan yang pahit dan berakhir dengan kegagalan. dan
(B) Yesus menekankan kebenaran ini ketika Ia mengajarkan bahwa kita harus mencari dulu Kerajaan Allah (yaitu, pemerintahan, kegiatan, dan kuasa Allah di dalam hidup kita); kemudian baru hal-hal penting lainnya akan dikaruniakan sesuai dengan kehendak dan jalan-Nya (Mat 5:6; Mat 6:33).
Sebagaimana Yesus menolak tawaran iblis tentang kerajaan dunia, kita pun harus demikian. Mengapa? Sebab :
(1) Kerajaan Yesus pada zaman ini bukanlah suatu kerajaan dari dunia ini (Yoh 18:36-37). Ia menolak mencari kerajaan bagi diri-Nya sendiri dengan cara-cara duniawi, yakni kompromi, kekuasaan duniawi, muslihat politik, kekerasan lahiriah, popularitas, hormat, dan kemuliaan.
(2) Kerajaan Yesus adalah suatu kerajaan rohani yang memerintah di dalam hati umat-Nya yang telah dikeluarkan dari kerajaan dunia. Sebagai suatu kerajaan sorgawi, maka :
(a) itu diperoleh melalui penderitaan, penyangkalan diri, kerendahan hati, dan kelembutan;
(b) itu menuntut penyerahan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus (Rom 12:1) dalam pengabdian dan ketaatan penuh kepada Allah;
(c) itu meliputi perjuangan dengan senjata rohani melawan dosa, pencobaan, dan Iblis (Ef 6:10-20);
(d) itu berarti menolak keserupaan dengan dunia ini (Rom 12:2).
Dari uraian tsb diatas, pencobaan yang dialami Tuhan Yesus sungguh berat sekali bila dibandingkan dgn pencobaan yang kita alami saat ini. Apa lagi sekarang ini zaman DIGITAL, manusia ingin enaknya saja (sifat manusiawi), serba instant maunya tanpa proses pencobaan. Bila ada pergumulan, kesulitan, kesesakan dan lain sebagainya itu, sering mengambil jalan pintas, hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Tuhan Yesus. Untuk itu, di dalam melaksanakan tugas kita masing2, marilah kita mengandalkan Roh Kudus dalam menghadapi : PENCOBAAN TUBUH DAN ROH SEBAGAI PENDIDIKAN DALAM RANGKA PERSIAPAN PELAKSANAAN TUGAS (thema SINODE).
AMIN…TUHAN YESUS MEMBERKATI
 mannab1010@gmail.com


Sabtu, 22 Februari 2020



HIDUP DALAM KASIH KARUNIA TUHAN

Keluaran 33:1-23

"Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani."  Keluaran 33:19

Kasih karunia atau anugerah berasal dari bahasa asli khen  (Ibrani)  atau kharis  (Yunani).  Dalam Perjanjian Lama Tuhan menunjukkan kasih karunia-Nya kepada bapa-bapa leluhur dan bangsa Israel.  Sedangkan dalam Perjanjian Baru kasih karunia Tuhan ditunjukkan-Nya dengan menyelamatkan manusia dari dosa dan hukuman kekal melalui pengorbanan Kristus di Kalvari.

     Pemberian kasih karunia ini semata-mata ada di bawah otoritas Tuhan sendiri  (ayat nas), di mana manusia tidak mempunyai andil apa pun di dalamnya;  semuanya dari, oleh dan untuk Tuhan sendiri.  Dengan kata lain kasih karunia itu mutlak hak prerogatif Tuhan.  Prinsip kasih karunia itu datang dari atas, dari Tuhan, kepada manusia, padahal sesungguhnya manusia tidak memiliki kelayakan untuk menerimanya.  "Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:16).  Jelas sekali bahwa keselamatan adalah kasih karunia dari Tuhan yang hanya dapat diterima oleh respons manusia melalui iman kepada Kristus, dan  "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).

     Sebagai  'manusia baru'  kita hidup di dalam kasih karunia, artinya hidup di dalam perlakuan istimewa dari Tuhan dan hidup di dalam janji Tuhan.  Meski kita hidup di dalam hukum kasih karunia Tuhan bukan berarti kita bisa hidup sekehendak hati atau sebebas-bebasnya tanpa ada pagar pembatas.  Di dalam kasih karunia Tuhan memberikan rambu-rambu-Nya yaitu melalui firman-Nya, yang bila dilanggar kita pun dapat kehilangan kasih karunia Tuhan itu.  Karena itu  "...jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima."  (2 Korintus 6:1), apalagi sampai menyalahgunakannya  (baca  Yudas 1:4).  Menyalahgunakan kasih karunia berarti dengan sengaja melakukan pelanggaran dalam kesadaran dan pengetahuan akan kebenaran.

"Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah."  Roma 5:2



Bacaan : Roma  5:15
Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah konferensi membahas sebuah pertanyaan, "apa yang membedakan kekristenan dengan semua religi lain di dunia?
Sebagian peserta berpendapat bahwa kekristenan unik karena mengajarkan bahwa Allah menjadi Manusia. Namun seseorang menolak pendapat tersebut dan berkata bahwa religi lain juga mengajarkan doktrin serupa.
Bagaimana mengenai kebangkitan? Sama saja, religi lain pun percaya bahwa orang mati dibangkitkan kembali. Diskusi pun semakin panas. C.S. Lewis, seorang pembela kekristenan yang gigih, datang terlambat, duduk dan bertanya, "Apa yang sedang diributkan?" Ketika ia mengetahui bahwa mereka sedang berdebat mengenai keunikan kekristenan, dengan segera ia menyatakan, "Oh, sangat mudah. Jawabannya adalah kasih karunia."
Manusia berada dalam masalah "dosa" yang pelik yang tidak mungkin diselesaikan dengan usaha apapun juga. Hanya "kasih karunia Allah" yang mampu mengatasinya. Dosa Adam membuat semua manusia dikuasai  dosa, namun ketaatan  Kristus mampu menyelamatkan semua yang percaya kepada-Nya. Yesus Kristus hidup dalam ketaatan kepada Allah. Meski kehendak Allah begitu berat untuk dilakukan, Kristus lebih mengutamakan kehendak Allah diberlakukan dalam hidup-Nya, sekalipun nyawa adalah taruhannya. Dampaknya ternyata jauh lebih luar biasa (ayat 16). Ketaatan Kristus membuat Allah tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia yang mau percaya kepada Dia. Karya-Nya membuat orang-orang yang percaya kepada Dia menerima pembenaran (ayat 18-19).
Bersyukurlah untuk kasih karunia yang telah saudara peroleh. Isilah keselamatanmu dengan meneladani Kristus yang rela memberikan nyawaNya demi metaati BapaNya.
Mannab1010@gmail.com



Senin, 17 Februari 2020


Timotius saat umur 18 thn


Kotbah tgl.20-02-2020 jam.11:00 Wib-PKLU GPIB KK Mdn
2 Timotius 3: 10-14
THEMA: BERPEGANGLAH PADA KEBENARAN
                                                                                                                                                                                                     By: MANNAB
Latar belakang Timotius dalam Alkitab
Timotius (Yunani: Timótheos, artinya "memuliakanTuhan";  bahasa InggrisTimothy) atau disebut Santo Timotius adalah seorang uskup Kristen abad pertama yang meninggal sekitar tahun 97 Masehi (ada yang menulis tahun 80 Masehi).
Dlm Alkitab Perjanjian Baru dicatat bhw Timotius bepergian dgn Rasul Paulus, yg juga menjadi mentornya.

Keluarga dan masa muda:

Timotius adh putra dari seorang perempuan Yahudi bernama Eunike, dan ayahnya adh seorang Yunani. Sewaktu kecil ia tidak disunat (adat Yahudi), Paulus mendorongnya untuk disunat supaya dapat diterima oleh org2 Yahudi. Paulus melakukan upacara sunat itu "dengan tangannya sendiri". 
Timotius ditahbiskan & kemudian pergi bersama Paulus mengabarkan Injil daerah PhrygiaGalatiaMysiaTroasFilipi,  Veria&Korintus. Serta mengikuti cara hidup Paulus wkt berada di Antiokhia, Ikonium & Listra (di daerah selatan Turki skrang).
Ibunya, Eunike, dan neneknya Lois, dipuji krn kesalehan dan iman mrk, yg mengindikasikan bhw mrk tlh menjadi Kristen. Timotius sendiri dipuji oleh Paulus karena pengetahuan alkitabiahnya (abad I Septuaginta ( Alkitab PL dlm bhs Yunani) / thn 70 han) & dikatakan tlh mengenal kitab suci sejak kecil.
Dia disebut sebagai penerima dari dua surat-surat dari rasul Paulus, yaitu Surat 1 Timotius dan Surat 2 Timotius. Timotius ditulis sebagai orang yang menulis surat 2 Tesalonika bersama Paulus dan Silwanus di bagian pembuka surat Filemon.

Pelayanan dan kehidupan selanjutnya:

Timotius menyertai Paulus dlm perjalanan mengabarkan Injil ke berbagai tempat. Ia juga menyertai Paulus sewaktu di penjara. Timotius sendiri pernah dipenjarakan paling sedikit satu kali selama masa penulisan kitab-kitab di Perjanjian Baru, yi dicatat di bgn akhir Surat Ibrani, bhw Timotius dilepaskan dr penjara.
Tampaknya Timotius mempunyai masalah dlm pencernaan tubuhnya, krn itu Paulus menasihatkan di suratnya yg pertama kpd Timotius: "Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah."
Menurut tradisi yang kemudian, Paulus mentahbiskan Timotius menjadi uskup di Efesus pada tahun 65, di mana ia melayani selama 15 tahun. Pada tahun 97 (ketika Timotius sedang sakit parah pada usia 80 tahun), ia mencoba menghalangi prosesi penyembahan berhala dari orang2 di sana dgn menyampaikan khotbah. Massa marah dan memukulinya, menyeretnya di jalan2 dan melemparinya dgn batu sampai mati.
Pd abad ke-4relikuinya (peninggalan berharga, tengkorak dll) dipindahkanke ChurchoftheHoly Apostles di Konstantinopel.
Penghormatan
Timotius dihormati sebagai seorang rasul, santo dan syuhada (mati krn membela ajaran Allah/ membela kebenaan) oleh Gereja Ortodoks Timur, dengan hari peringatannnya pada tanggal 22 JanuariGereja Katolik Roma memperingatinya bersama-sama Titus pada tanggal 26 Januari. Dlm Kalender Roma Umum tahun 1962, peringatannya diadakan pada tanggal 24 Januari. Bersama Titus dan Silas, ia diperingati di Evangelical Lutheran Church in America dan Episcopal Church (United States) pada tanggal 26 Januari. Peringatan Timotius diadakan di gereja Lutheran Church–Missouri Synod pada tanggal 24 Januari.
Ø Thema dr Sinode:BERPEGANGLAH PD KEBENARAN
2 Timotius 3:10-14
“Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.”  (2 Timotius 3:10)
Pesan ini disampaikan oleh Rasul Paulus kepada, Timotius, saat ia masih berada di dalam penjara. Bukan karena telah melakukan pelanggaran hukum seperti kebanyakan orang saat ini, tetapi dia dijebloskan dalam penjara karena memberitakan Injil. Karena kasihnya, Paulus tidak henti-hentinya memberi motivasi dan semangat kepada Timotius agar ia tetap teguh di dalam iman dan mengerjakan tugas pelayannya walaupun berada dalam penganiayaan dan atau kesesakan. Paulus telah memberikan teladan dalam banyak hal yaitu ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih dan ketekunan; dan ia menegaskan lagi bahwa “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”. (2 Timotius 3:12).

Di dalam
Ibrani 11:1 dikatakan bhw: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Inilah inti dari iman yaitu percaya kepata Tuhan dengan segenap hati, maka semua akan jadi. Di tengah situasi sulit kita harus memiliki keberanian untuk mengaktifkan iman yang ada di dalam diri kita dengan jalan mengabarkan firman Tuhan, dengan tujuan mematahkan dan menghancurkan semua siasat dan pekerjaan iblis!
Selain itu, Paulus juga menghimbau agar Timotius tetap hidup di dlm kebenaran (ayat 14) yg artinya:
memiliki iman yang rohani. Seseorang dapat dikatakan beriman kepada Tuhan bila dia hidup dalam kekudusan dan berusaha melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupnya. Jangan pernah berharap dapat melihat mujizat Tuhan dalam hidup ini bila kita sendiri tidak rohani atau tidak kudus, seperti yang disampaikan Yosua kpd bangsa Israel saat mereka hendak menyeberangi sungai Yordan, “Kuduskanlah hatimu, sebab besok Tuhan akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” (Yosua 3:5), karena Tuhan sangat membenci orang-orang yang terus melakukan dosa atau hodup di dalam dosa. Maka dari itu jangan pernah membatasi kuasaNya, sebab bagi Tuhan tidak ada suatu hal yang tidak mungkin atau mustahil, asal kita taat kepadanya!
“Sebab semua yg lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”  (1 Yohanes 5:4)

DOA: Ya, Bapa Tuhan kami yg maha mulia, kuatkan & mampukanlah kami spy sellu melaksanakan kebenaran-Mu di tengah2 berbagai pergumulan kesulitan & kesesakan..




Sabtu, 08 Februari 2020


Adat Istiadat
Perlu disadari bahwa manusia tidak hidup sendiri di dunia dimana ia terbebas dari segala nilai dan adat-istiadat dan bisa berbuat apapun sesukanya, sebab sebagai mahluk yang tinggal di dunia ini, manusia selalu berinteraksi dengan keluarga, orang-orang di lingkungan hidup sekelilingnya, lingkungan pekerjaan, suku dan bangsa dengan kebiasaan dan tradisinya dimana ia dilahirkan, dan budaya religi turun-temurun dimana suku dan bangsa itu memiliki tradisi nenek-moyang yang kuat. Karena itu manusia tidak terbebas dari adat-istiadat.
Lalu bagaimana manusia bersikap menghadapi tradisi itu? Setidaknya ada 3 kecenderungan yang dijadikan panutan sikap manusia menghadapi adat-istiadat disekelilingnya.
I: Sikap antagonistis/penolakan akan segala bentuk adat-istiadat yang tidak diingininya, gejala ini kita lihat dalam bentuk fundamentalisme yang ektrim. Di Indonesia ada "Islam pentungan" yang suka melabrak kelab-kelab malam dan tempat bilyar kalau mendekati Lebaran, juga ada kalangan kristen yang melarang merokok, minum-minuman keras, dan nonton secara keras. Sikap ini jelas tidak realistis karena sekalipun yang ditolaknya itu barang haram tapi pengubah mental orang tidak tepat bila menggunakan cara larangan dan paksaan yang bersifat lahir demikian;
II:  Sikap terbuka yang kompromistis yang menerima segala bentuk adat-istiadat lingkungannya. Sikap demikian sering terlihat dalam kecenderungan liberalisme ekstrim yang sering menganut faham kebebasan. Misalnya di Belanda yang dikenal sebagai negara Eropah yang paling liberal, pecandu narkoba bisa menjadi anggota dewan kota dan euthanasia dihalalkan. Kebebasan yang kebablasan demikian juga kurang tepat, karena bagaimanapun manusia hidup didunia berhubungan dengan orang lain, maka kebebasan yang keterlaluan dari sekelompok yang satu bisa berdampak merugikan kelompok lain;
III: Sikap dualisme. Sikap ini tidak mempertentangkan dan tidak mencampurkan faham-faham adat itu, tetapi membiarkan semua adat-istiadat itu berjalan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Ada contoh menarik mengenai perilaku mendua demikian. Ketika di tahun 1970-an mengerjakan proyek hotel di Bali, seorang pengusaha di hari minggu pagi-pagi benar mendahului yang lain menghilang dari hotel untuk pergi beribadat di depan pastornya untuk menerima komuni. Namun, tanpa rasa bersalah apa-apa, kalau malam minggu ia melupakan isterinya yang ditinggal di Surabaya dan berleha-leha di kelab-kelab malam sampai larut malam. Seorang rekannya menggelitik perilaku menduanya dengan mengatakan: "Kalau minggu pagi lari ke gereja mencari hosti, tapi kalau malam minggu lari ke kelab malam mencari hostess." Ia dengan isterinya kemudian bercerai.
Pada umumnya orang-orang akan menjauhi pusat lingkaran dan karena dorongan sentrifugal akan mendekati kecenderungan-kecenderungan di lingkaran itu, lalu bagaimana sikap seorang kalau ia menjadi orang Kristen? Apakah ia juga berperilaku selayaknya orang dunia dimana ia hidup sebelumnya?
Memang ada praktek di kalangan orang Kristen yang fundamentalis ekstrim yang menolak segala sesuatu yang dianggapnya dosa, ada juga yang begitu liberal bebas yang menerima begitu saja dan berkompromi dengan semua yang bisa dinikmati orang dunia pada umumnya. Ada juga yang mendua dan berstandar ganda, yaitu dilingkungan kristen ia berusaha hidup suci sesuai standar lingkungan jemaatnya tetapi berada diluar ia bisa tidak ada bedanya dengan orang tidak beriman.
Rasanya ketiga kecenderungan sikap demikian kurang tepat bagi seorang Kristen. Verkuyl dalam salah satu buku etikanya mengatakan bahwa umat Kristen terjerat diantara daya tarik antara libertinisme dan farisiisme. Disatu segi ia ditarik oleh kecenderungan keterbukaan dengan moralitas bebasnya, disegi lain ia ditarik oleh kecenderungan ketertutupan dengan moralitas kakunya. Kenyataan yang disebutkan Verkuyl itu memang benar, dan sikap di antara itu juga tergoda sikap mendua yang ada di antara kedua kecenderungan itu.
Di kalangan kekristenan ada juga yang mencari jalan baru dengan mempromosikan moralitas baru yang menekankan situasi, kondisi dan waktu yang tepat sebagai jendela menerima keputusan etis menghadapi adat-istiadat. Sikap keempat ini mirip sikap mendua dan liberal. Sikap yang dikenal sebagai etika situasi ini (Joseph Fletcher, 1966) itu menolak sikap yang disebutkannya sebagai sikap legalistik, ia juga menolak sikap yang disebutnya sebagai sikap antinomian, karena itu ia menawarkan sikap perantara yang berdasarkan pertimbangan situasi, kondisi, dan waktu.
Lalu bagaimana selayaknya umat kristen bersikap? Bagi mereka yang takut akan Allah, rasanya semua tindakan kita dalam menerima adat-istiadat perlu berorientasi pada Allah dan kehendak-Nya, ini menghasilkan empat pertimbangan berikut, yaitu sikap menghadapi adat-istiadat yang: (1) Memuji dan memuliakan Allah; (2) Tidak menyembah berhala; (3) Mencerminkan kekudusan Allah; dan (4) Mengasihi manusia dan kemanusiaan. Keempatnya berurutan dari atas ke bawah dimana memujid an memuliakan Allah adalah tugas utama umat Kristen (Mazmur 150) dan ketiga lainnya diukur dari apakah itu meneguhkan kepujian dan kemuliaan Allah atau tidak.
Lalu adakah tingkat-tingkat pertumbuhan yang menentukan umat kristen bersikap? Kedewasaan umat kristen dalam bersikap perlu mengarah pada kecenderungan kelima yaitu "transformatif," yaitu ia hidup dengan mentransformasikan setiap adat-istiadat agar sesuai dengan kepujian, kemuliaan dan kehendak Allah. Ia semula hidup berkajang dalam dosa dan melakukan adat-istiadat dimana kuasa dosa banyak berpengaruh. Pengenalannya akan Tuhan Yesus Kristus membawanya kepada pertobatan (metanoea) dimana ia mulai merasakan perubahan arah dalam hidupnya dari dosa menuju kebenaran, dan seperti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor.5:17).
Dari perubahan yang transformatif inilah ia terus menerus melakukan trasformasi dari dosa menuju kebenaran sehingga kehidupannya makin hari makin baik. Rasul Paulus mengatakan bahwa: "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah menjadi sempurna, melainkan aku mengejarnya" (Flp.3:12). Namun, harus disadari bahwa transformasi itu bukanlah hasil usaha manusia dengan kekuatannya sendiri tetapi sebagai hasil interaksi iman kita yang mendatangkan rahmat Allah: "Dan semuanya itu dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami" (2Kor.5:18).
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurnya" (Rm.12:1-2).
Semoga pembahasan di atas menjadi bekal bagi kita untuk bersikap dalam menghadapi adat-istiadat di sekeliling kita.
AMIN

Kubur telah kosong Para wanita melihat Kubur Yesus bangkit Bersama Malaikat   Markus 16:1-8 Kebangkitan Tuhan Kita: Mingg...