HIDUP DALAM KASIH KARUNIA TUHAN
Keluaran 33:1-23
"Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." Keluaran 33:19
Kasih karunia atau anugerah berasal dari bahasa asli khen (Ibrani) atau kharis (Yunani). Dalam Perjanjian Lama Tuhan menunjukkan kasih karunia-Nya kepada bapa-bapa leluhur dan bangsa Israel. Sedangkan dalam Perjanjian Baru kasih karunia Tuhan ditunjukkan-Nya dengan menyelamatkan manusia dari dosa dan hukuman kekal melalui pengorbanan Kristus di Kalvari.
Pemberian kasih karunia ini semata-mata ada di bawah otoritas Tuhan sendiri (ayat nas), di mana manusia tidak mempunyai andil apa pun di dalamnya; semuanya dari, oleh dan untuk Tuhan sendiri. Dengan kata lain kasih karunia itu mutlak hak prerogatif Tuhan. Prinsip kasih karunia itu datang dari atas, dari Tuhan, kepada manusia, padahal sesungguhnya manusia tidak memiliki kelayakan untuk menerimanya. "Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Roma 9:16). Jelas sekali bahwa keselamatan adalah kasih karunia dari Tuhan yang hanya dapat diterima oleh respons manusia melalui iman kepada Kristus, dan "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17).
Sebagai 'manusia baru' kita hidup di dalam kasih karunia, artinya hidup di dalam perlakuan istimewa dari Tuhan dan hidup di dalam janji Tuhan. Meski kita hidup di dalam hukum kasih karunia Tuhan bukan berarti kita bisa hidup sekehendak hati atau sebebas-bebasnya tanpa ada pagar pembatas. Di dalam kasih karunia Tuhan memberikan rambu-rambu-Nya yaitu melalui firman-Nya, yang bila dilanggar kita pun dapat kehilangan kasih karunia Tuhan itu. Karena itu "...jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima." (2 Korintus 6:1), apalagi sampai menyalahgunakannya (baca Yudas 1:4). Menyalahgunakan kasih karunia berarti dengan sengaja melakukan pelanggaran dalam kesadaran dan pengetahuan akan kebenaran.
"Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." Roma 5:2
Keluaran 33:1-23
"Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." Keluaran 33:19
Kasih karunia atau anugerah berasal dari bahasa asli khen (Ibrani) atau kharis (Yunani). Dalam Perjanjian Lama Tuhan menunjukkan kasih karunia-Nya kepada bapa-bapa leluhur dan bangsa Israel. Sedangkan dalam Perjanjian Baru kasih karunia Tuhan ditunjukkan-Nya dengan menyelamatkan manusia dari dosa dan hukuman kekal melalui pengorbanan Kristus di Kalvari.
Pemberian kasih karunia ini semata-mata ada di bawah otoritas Tuhan sendiri (ayat nas), di mana manusia tidak mempunyai andil apa pun di dalamnya; semuanya dari, oleh dan untuk Tuhan sendiri. Dengan kata lain kasih karunia itu mutlak hak prerogatif Tuhan. Prinsip kasih karunia itu datang dari atas, dari Tuhan, kepada manusia, padahal sesungguhnya manusia tidak memiliki kelayakan untuk menerimanya. "Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Roma 9:16). Jelas sekali bahwa keselamatan adalah kasih karunia dari Tuhan yang hanya dapat diterima oleh respons manusia melalui iman kepada Kristus, dan "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17).
Sebagai 'manusia baru' kita hidup di dalam kasih karunia, artinya hidup di dalam perlakuan istimewa dari Tuhan dan hidup di dalam janji Tuhan. Meski kita hidup di dalam hukum kasih karunia Tuhan bukan berarti kita bisa hidup sekehendak hati atau sebebas-bebasnya tanpa ada pagar pembatas. Di dalam kasih karunia Tuhan memberikan rambu-rambu-Nya yaitu melalui firman-Nya, yang bila dilanggar kita pun dapat kehilangan kasih karunia Tuhan itu. Karena itu "...jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima." (2 Korintus 6:1), apalagi sampai menyalahgunakannya (baca Yudas 1:4). Menyalahgunakan kasih karunia berarti dengan sengaja melakukan pelanggaran dalam kesadaran dan pengetahuan akan kebenaran.
"Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." Roma 5:2
Bacaan
: Roma 5:15
Beberapa tahun yang lalu
dalam sebuah konferensi membahas sebuah pertanyaan, "apa yang membedakan
kekristenan dengan semua religi lain di dunia?
Sebagian
peserta berpendapat bahwa kekristenan unik karena mengajarkan bahwa Allah
menjadi Manusia. Namun seseorang menolak pendapat tersebut dan berkata bahwa
religi lain juga mengajarkan doktrin serupa.
Bagaimana
mengenai kebangkitan? Sama saja, religi lain pun percaya bahwa orang mati
dibangkitkan kembali. Diskusi pun semakin panas. C.S. Lewis, seorang pembela kekristenan
yang gigih, datang terlambat, duduk dan bertanya, "Apa yang sedang
diributkan?" Ketika ia mengetahui bahwa mereka sedang berdebat mengenai
keunikan kekristenan, dengan segera ia menyatakan, "Oh, sangat mudah.
Jawabannya adalah kasih karunia."
Manusia berada dalam
masalah "dosa" yang pelik yang tidak mungkin diselesaikan dengan
usaha apapun juga. Hanya "kasih karunia Allah" yang mampu
mengatasinya. Dosa Adam membuat semua manusia dikuasai dosa, namun
ketaatan Kristus mampu menyelamatkan semua yang percaya kepada-Nya. Yesus
Kristus hidup dalam ketaatan kepada Allah. Meski kehendak Allah begitu berat
untuk dilakukan, Kristus lebih mengutamakan kehendak Allah diberlakukan dalam
hidup-Nya, sekalipun nyawa adalah taruhannya. Dampaknya ternyata jauh lebih
luar biasa (ayat 16). Ketaatan Kristus membuat Allah tidak memperhitungkan
dosa-dosa manusia yang mau percaya kepada Dia. Karya-Nya membuat orang-orang
yang percaya kepada Dia menerima pembenaran (ayat 18-19).
Bersyukurlah untuk kasih
karunia yang telah saudara peroleh. Isilah keselamatanmu dengan meneladani
Kristus yang rela memberikan nyawaNya demi metaati BapaNya.
Mannab1010@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar