Semut yg rajin selalu gotong royong
POKOK BACAAN: AMSAL 6 AYAT 6
Ada
perbedaan yang mencolok antara orang rajin dan malas. Alkitab menggambarkan
pemalas sebagai seorang yang “senang tidur, mengantuk, berbaring, dan melipat
tangan” (ay.10). Ia membiarkan dirinya dikuasai oleh sikap malas. Ia membiarkan
waktu berlalu tanpa berbuat apa-apa. Prinsip hidupnya berbunyi: “sebentar
lagi”. Dengan kata lain ia terus menerus menunda-nunda tiap kesempatan yang
datang. Ia terbenam dalam mimpi-mimpinya, sehingga tanpa sadar, dengan cepat
waktu berlalu. Barulah ia menyadari bahwa ia sudah ketinggalan jauh.
Apa yang
terjadi dengan hidupnya kemudian? “Kemiskinan datang seperti seorang penyerbu,
dan kekurangan seperti orang bersenjata.” Ia dikuasai oleh kemiskinan. Ia
terjebak oleh kemiskinan, dan pada saat itu ia sudah tidak bisa melakukan
apa-apa lagi karena kesempatan sudah lewat.
Sebaliknya,
untuk menjadi seorang yang rajin seseorang perlu belajar kepada semut.
Kehidupan semut menjadi sebuah gambaran sebuah tindakan rajin yang perlu
dilakukan kita semua. Belajar rajin harus dimulai semenjak kecil. Sewaktu masih
kecil, anak-anak harus diingatkan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Satu demi
satu pekerjaan dikerjakan hingga selesai karena permintaan orang lain.
Sedangkan dalam dunia pekerjaan, banyak orang dewasa juga menyelesaikan tanggung
jawabnya karena diawasi oleh sang bos.
Seorang yang
rajin tidak membutuhkan seseorang untuk mengingatkan, mengawasi, mendikte,
maupun memerintahkan apa yang harus diselesaikan. Meskipun tanpa ada yang
mengawasi, dia akan menyelesaikan semua pekerjaan maupun tanggung jawabnya.
Seorang yang rajin itu menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk
kebaikan dirinya bukan hanya pada masa kini namun berefek pada masa depannya.
Ayat 7
menggambarkan semut-semut yang bekerja dengan “tidak ada pemimpin, pengatur,
atau penguasanya.” Mereka tidak berpangku tangan menunggu perintah, atau baru
bertindak jika disuruh. Mereka menyadari adanya suatu kebutuhan yang harus
dipenuhi, yaitu mengumpulkan makanan. Itulah sebabnya mereka bekerja sama
memenuhi kebutuhan tersebut.
Selanjutnya,
seorang yang rajin menyelesaikan apa yang telah dimulai dan tahu apa yang
dilakukan berguna untuknya. Seorang yang rajin tidak pernah menunda-nunda
kesempatan yang ada. Ketika kesempatan datang, seorang yang rajin akan
memanfaatkan kesempatan tersebut sehingga ia mendapatkan keuntungan yang
maksimal. Ayat 8 menggambarkan semut-semut “menyediakan roti di musim panas,
mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” Waktu untuk mencari makanan ternyata
sangat terbatas dan tidak bisa datang setiap waktu. Semut-semut menggunakan
kesempatan mencari makan itu karena mereka tahu jika kesempatan ini
disia-siakan, maka kesempatan itu akan lewat dan mereka bisa mati kelaparan.
Kita semua
memiliki waktu yang sama: dua puluh empat jam sehari. Namun cara kita
menggunakannya berbeda. Sukses atau tidaknya kita di masa depan ditentukan oleh
bagaimana kita menggunakan waktu kita hari ini.
Baca: Yakobus 2 ayat 20, 26


Tidak ada komentar:
Posting Komentar